Menerima Jelantah Untuk Diolah Jadi Biodiesel

May 14, 2008 – 2:20 pm

 

 

 

 

 

Ternyata limbah jelantah bisa diolah jadi biodiesel, nah ini merupakan ide yang bagus. Daripada dijual ke masyarakat sehingga membahayakan kesehatan, lebih baik dilah menjadi biodiesel. Berikut ini merupakan pengepul Biodiesel :

————

Dear Netters,

Sebentar lagi harga BBM akan naik dan terus akan naik sejalan dengan semakin sulitnya mendapatkan minyak bumi. BBM juga akan semakin sulit didapat seperti terlihat pada antrian-antrian kendaraan di seluruh Indonesia. Salah satu alternatif terbaik untuk mendapatkan BBM diesel agar industri tetap jalan adalah menggunakan biodiesel dari jelantah.

Jelantah adalah minyak goreng yang sudah 2 x digunakan untuk menggoreng dan sudah dikatagorikan sebagai limbah. Limbah jelantah ini dapat menyebabkan kangker apabila digunakan kembali untuk menggoreng walaupun telah disaring dan dijernihkan kembali. Jelantah akan mengotori selokan apabila dibuang di parit-parit perumahan.

Biodiesel adalah bahan bakar yang terbarukan dan ramah lingkungan serta menghasilkan aroma harum dari asap kendaraan yang menggunakannya. Bagi teman-teman industri yang membutuhkan biodiesel dapat menghubungi Pak Hasim Hanafie di +62 816112 6264. Beliau memiliki mesin pembuat Biodiesel dari Jelantah yang membeli Jelantah dan menjual Biodieselnya untuk Industri. Biodiesel yang dihasilkan telah digunakan untuk kendaraan bus Transpakuan Pemkot Bogor.

Beliau juga bersedia membeli jelantah (minyak goreng bekas) dalam jumlah tidak terbatas untuk dikonversikan menjadi Biodiesel. Bagi Hotel dan Restaurant yang bersedia menjual jelantahnya sambil ikut berpartisipasi menyelamatkan planet bumi, silahkan menguhubungi Pak Hasim Hanafie di +62 8161126264

Ini ada artikel dari Pikiran Rakyat yang mungkin bermanfaat untuk sekedar bacaan

========================================

Berita dari Koran : Pikiran Rakyat

Jelantah, Bahan Bakar Transpakuan

BOGOR - Terobosan terbaru dilakukan Pemkot Bogor yaitu dengan memanfaatkan minyak goreng bekas atau sering disebut minyak jelantah, untuk dijadikan bahan bakar alternatif bus Transpakuan. Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Bogor menunjuk dua pengelola koperasi pasar di Pasar Sukasari dan Pasar Padasuka untuk mengumpulkan minyak jelantah dari 120 pemilik restoran dan pedagang makanan di Kota Bogor. Asda Bidang Sosial Ekonomi Pemkot Bogor, Indra M. Rusli mengatakan, minyak jelantah adalah limbah yang membahayakan karena mengandung zat karsinogenik yang bisa menyebabkan penyakit jantung. “Pemakaian minyak goreng paling banyak untuk tiga kali menggoreng, setelah itu tidak sehat lagi. Karena, sudah mengandung zat karsinogeik. Namun, ternyata hasil penelitian zat karsinogenik ini bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan,” kata Indra. Dengan pertimbangan seperti itu, Pemkot Bogor melihat minyak jelantah ini bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif bus Transpakuan yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Jasa Transportasi. Minyak jelantah tersebut akan diolah menggunakan mesin, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Pemkot Bogor tertarik ingin memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif setelah melihat pemanfaatannya di Kota Kyoto, Jepang. “Saat ini ada sekitar 120 bus bermesin diesel di Kyoto yang bahan bakarnya 20 persen menggunakan minyak jelantah dan 80 persen menggunakan solar,” kata Indra. Kepala Koperasi Pasar Bogor, Rizal Utami, yang mengelola kebersihan di tiga pasar tersebut mengatakan, jelantah yang sudah tidak terpakai oleh restoran dan pedagang makanan dikumpulkan menggunakan jerigen yang disediakan Pemkot Bogor. “Jerigen-jerigen itu dititipkan di restoran dan pedagang makanan oleh petugas dari Koppas. Setiap tiga hari, jerigen itu akan diambil dan diberikan jerigen baru,” kata Rizal Utami. (A-104)***

Langkah-langkah pembuatan Ethanol

May 12, 2008 – 5:49 am

Ada beberapa pertanyaan ke blog saya mengenai pembuatan ethanol. Kebetulan ada bacaan dari Kompas mengenai pemrosesan Ethanol dari ubi, dimana hasil output maksimumnya adalah ethanol 96 persen, dan dapat digunakan untuk campuran premium 5 sampai 10 persen. Berikut ini adalah cara pembuatan ethanol dari ubi:—–

Erliana Ginting dan Titik Sundari dari Pascapanen dan Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang Departemen Pertanian mengungkapkan proses pembuatannya. Caranya, ubi kayu atau singkong yang segar dikupas kulitnya, dicuci lalu diparut. Selanjutnya dilikuifikasi atau ditambahkan enzim amilase dan dipanaskan hingga suhu 90 derajat celsiun selama 30 menit sambil terus diaduk.

Selanjutnya bubur ubi itu didinginkan, dan tambahkan enzim glukoamilase (atau istilah lain disakarifikasi) dan dipanaskan lagi hingga suhu 60 derajat Celsius selama 2 jam. Selanjutnya pada suhu 32 derajat Celsius, ditambahkan ragi. Kemudian difermentasi pada suhu kamar selama 72 jam. Langkah selanjutnya penyulingan, dengan pemanasan minimum 80 derajat celsius. Jadilah etanol dengan kadar 96 persen.

Agar kadar etanol bisa naik sampai 99,5 persen dan bisa digunakan untuk substitusi premium, perlu didehidrasi dengan teknologi molecular sievehttp://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.29.13132842&channel=1&mn=53&idx=56. 

PARA PEMASOK UNILEVER MEMBAKARKALIMANTAN DEMI MINYAK KELAPA SAWIT; GREENPEACE MENUNTUT MORATORIUM KONVERSIHUTAN

April 24, 2008 – 10:17 am

Jakarta/Singapore, 21 April 2008 – Unilever, nama dibalik berbagai merek besar dunia,termasuk sabun Dove, menyumbang perusakan hutan serta lahan gambut Indonesia,ekosistem terakhir di muka bumi yang merupakan cadangan karbon yang besar sertamerupakan habitat orangutan serta satwa langka lainnya, menurut organisasilingkungan hidup Greenpeace.

Dalam laporan yang bernada keras, bertajuk “MembakarKalimantan”, Greenpeace membeberkan laporan baru yang menunjukkan titik-titikdimana para pemasok Unilever menghancurkan hutan gambut dan habitat orangutandemi menanam kelapa sawit, salah satu bahan penting dalam pembuatan merek sabunterkenal Unilever.

“Sungguhketerlaluan apabila hutan hujan kita terus dirusak demi produksi minyak kelapasawit.
Kamitelah berkali-kali menyerukan pemerintah Indonesia untuk menyatakan moratoriumguna menyelamatkan hutan dan lahan gambut tersisa dari penghancuran hanya demisabun dan shampo,” kata Hapsoro, juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara,“Kini Greenpeace menyerukan para industri pengguna utama minyak kelapa sawitberhenti membeli dari perusahaan-perusahaan yang merusak hutan dan lahangambut,” ujar Hapsoro.

Kerusakan hutan Indonesia terjadi lebih pesatdibandingkan negara pemilik hutan lainnya di dunia. Hal ini menjadikanIndonesia penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di muka bumi (1).

Lahan gambut yang dalam di kawasan ini ketika dikeringkandan kemudian dibakar dalam proses mempersiapkan lahan baru untuk perkebunankelapa sawit menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah yang besar. Kawasanlahan gambut ini bertanggung jawab atas 4% dari jumlah emisi gas rumah kacadunia (2).

Laporan ini juga menjelaskan bagaimana pertumbuhansektor kelapa sawit memberikan dampak buruk terhadap keanekaragaman hayati.Jumlah populasi orangutan merosot drastis dan terancam kepunahan(3). Denganmemetakan kawasan yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan kunci yangmenjadi pemasok perusahaan Unilever, laporan ini menjelaskan bagaimanaperusahaan dengan hubungan langsung dengan Unilever saat ini membabat habitatorangutan yang tersisa. Laporan ini juga mencakup riset lapangan yang dilakukanoleh Greenpeace di bulan-bulan awal tahun 2008.

“Kami tercengang saat mengetahui bagaimana Unilever,yang merupakan salah satu pengguna minyak kelapa sawit terbesar di dunia danmerupakan pemrakarsa utama Roundtable of
Sustainable Palm Oil (RSPO), suatu organisasi industri yang dibentuk untukmemastikan produksi minyak kelapa sawit yang ramah lingkungan, ternyata tidakmelakukan apapun untuk mengehentikan para pemasok merusak hutan serta lahangambut,” ujar Sue Connor dari Greenpeace Internasional di Jakarta, “Kecuali Unilevermembersihkan segenap operasinya orangutan akan punah lebih cepat, kitakehilangan kesempatan bertindak mencegah bencana iklim.”

- Greenpeace menyerukan Unilever agar secara terbukamendeklarasikan penghentikan perluasan lahan kelapa sawit pada kawasan hutandan lahan gambut serta berhenti berbisnis dengan pemasok yang terus merusakhutan hujan.

- Greenpeace menyerukan pemerintah Indonesia untuksegera mendeklarasikan moratorium konversi lahan gambut dan hutan dengankriteria minimum sebagai berikut:
1. Tidak ada perkebunan baru dalam kawasan hutan yangsudah dipetakan
2. Tidak ada perkebunan baru yang dibuka dengan caramerusak lahan gambut
3. Tidak ada perkebunan atau perluasan arealperkebunan pasca-November 2005 yang dihasilkan dari deforestasi atau merusakkawasan dengan nilai konservasi tinggi (High Conservation Value Forest, HCVF).
4. Tidak ada perkebunan atau perluasan arealperkebunan pada kawasan masyarakat adat atau kelompok masyarakat yangmenggantungkan hidup mereka pada hutan tanpa persetujuan mereka yang diambiltanpa tekanan (free prior informed consent, FPIC).
5. Menginformasikan secara terbuka rantai lacakpasokan serta sistem segregasi yang dapat menandai dan mengecualikan minyakkelapa sawit dari kelompok yang gagal memenuhi kriteria di atas.

Greenpeace  adalah organisasi kampanye yang independen,yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkapmasalah lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depanyang hijau dan damai.

Foto danVideo :

1.     Tersedia foto dan video kerusakan hutan sertaorangutan di lahan perkebunan kelapa sawit.
2.     tersedia video orangutan yang terluka di perkebunankelapa sawit.

Catatan bagipara editor:

Menurut Pusat Perlindungan Orang-Utan (Centre forOrangutan Protection), setidaknya 1.500 orangutan mati di tahun 2006 akibatserangan yang disengaja oleh pekerja perkebunan. (4)

Sejak tahun 1900, jumlah orangutan Sumateradiperkirakan turun 91%, dengan angka terbesar di akhir abad ke-20.

Sejak tahun 1990, 28 juta hektar hutan Indonesia –dengan ukuran sama dengan Ekuador – telah dihancurkan, sebagian besar akibatpembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Permintaan akan minyak kelapa sawitdiperkirakan akan meningkat berlipat ganda; dua kali lipat pada tahun 2030 dantiga kali pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2000.

Hapsoro, Juru Kampe Hutan Greenpeace Asia Tenggara,+62 813 7848 9700
Sue
Connor, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Internasional +62 813 1594 3404 / +64 21
2299 594

Adhityani Arga, Juru Kampanye Media Greenpeace AsiaTenggara +62 813 980 999 77

Tim Birch, Juru Kampanye Hutan GreenpeaceInternasional, + 00 44 7801 212 960
Vicky Wyatt, pusat informasi pers GreenpeaceInternasional, +00 44 7801 212 970
John Novis, desk foto Greenpeace Internasional, + 0044 7865 8230
Michael Nagasaki, desk video Greenpeace Internasional,+ 00 31 646 162 015

CATATAN KAKI

(1)  WetlandsInternational, Peatland degradation fuels climate change, November 2006

(2)Cooking the Climate, Greenpeace Report , November2007

(3)The Last Stand of the Orangutan; State ofEmergency: Illegal Logging, Fire and Palm Oil in Indonesia’s National Parks,UNEP, Feb 2007

(4) AFP (2007) ‘Activists: Palm oil workers killingendangered Orang-Utans.

Arie Rostika Utami
Assistant Media Campaigner
Greenpeace Southeast Asia

www.greenpeace.or.id

arie.utami@greenpeace.org

Delapan Jam Menyelamatkan Nyawa Bayi

April 5, 2008 – 4:30 pm

Sabtu, 05 April 2008

Delapan Jam Menyelamatkan Nyawa Bayi

Anak berusia 10 bulan itu dibawa berjalan selama 7 jam lebih demi mendapatkan perawatan dokter. Kedua orang tua angkatnya berjalan dari Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Soebandi, Jember. Jarak dari desanya ke rumah sakit itu 18 kilometer.

Gurat wajah Rita–nama anak itu–masih menyisakan rasa sakit. Kelopak matanya lesu dan kuyu.

Jarum dan slang infus masih menempel di punggung tangan kirinya. Di sebelahnya, Ny Mariyah, 36 tahun, terlihat sabar menungguinya kemarin pagi. “Alhamdulillah, samangken kole’ en ampon cellep. Tak mencret. Bisa ngeddha tedhung (Alhamdulillah, sekarang kulitnya sudah tidak panas. Tidak mencret. Bisa tidur nyenyak),” ujarnya kemarin.

Sudah sejak 10 hari lalu Rita terserang panas. Di tubuhnya juga mulai muncul bercak merah. “Makin lama makin parah,” kata buruh tani lepas itu.

Rita adalah kemenakan Mariyah. Ibunya, Sumiyati, dan bapaknya, Rohim, sejak Agustus 2007 mencoba mengadu peruntungan menjadi TKI ilegal di Malaysia.

Kondisi ekonomi keluarga Mariyah memang serba kekurangan. Mariyah tak bisa memenuhi gizi yang dibutuhkan bayi seusia Rita.

Sebagai pengganti air susu ibu, Mariyah memberi Rita susu bayi formula. Agar bisa membeli susu, tak jarang Mariyah harus menukarkan beras atau jagung.

Ketika kondisi Rita mulai parah, Kamis lalu Mariyah dan suaminya membawa Rita ke seorang bidan di kompleks perumahan di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, yang terletak sekitar 15 kilometer di selatan dusun mereka. Dengan bekal uang hanya Rp 8.000, keduanya menggendong Rita menuju rumah bidan itu.

Dengan berjalan kaki, kedua orang itu menapaki jalanan gelap. Di sepanjang jalan, tangis Rita membahana. Setiba di rumah bidan, sang bidan menyarankan agar dibawa ke puskesmas. Sang bidan memberinya uang Rp 10 ribu.

Di puskesmas dibilang kondisi Rita sudah parah. Mantri yang bertugas menyarankan agar Rita dibawa ke RSUD Soebandi, Jember.

Setiba di rumah sakit, Rita divonis kena gizi buruk. “Kondisinya parah,” kata dokter Ramzi Syamlan.

Rita hanyalah salah satu kondisi bayi yang memprihatinkan. Masih banyak lagi kondisi bayi yang seperti ini. MAHBUB DJ

Sumber : Tempo,

http://ghozan.blogsome.com/2008/04/05/duka-untuk-negeriku/