Peran Bank Dunia dalam kenaikan harga BBM di Indonesia

June 18, 2008 – 8:03 am

Selasa, 17/06/2008

Peran Bank Dunia dalam kenaikan harga BBM di Indonesia

Kekecewaan sebagian masyarakat Indonesia terkait dengan kenaikan harga BBM pada akhir Mei lalu belum sepenuhnya mereda. Namun, hal itu tak menyurutkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mengusulkan kembali kenaikan harga BBM hingga sesuai dengan harga pasar.

Dalam running text yang ditayangkan sebuah televisi swasta nasional belum lama ini disebutkan bahwa� Bappenas mengusulkan agar pada 2009 pemerintah dapat menaikan harga BBM secara bertahap dalam setiap bulannya hingga sesuai dengan harga BBM di pasar dunia.

Apabila dikaji lebih jauh usulan Bappenas itu sejatinya tidak terkait langsung dengan upaya penghematan energi fosil, tetapi terkait erat dengan upaya mengejar target pemenuhan kominten kebijakan yang harus dibuat pemerintah setelah menerima pinjaman dari Bank Dunia.

Pada 2003 pemerintah menerima pinjaman Bank Dunia untuk membiayai proyek Java Bali Power Sector Restructuring and Strengthening. Menurut dokumen Bank Dunia, proyek tersebut bertujuan mendukung pemerintah Indonesia dalam usahanya menghilangkan subsidi BBM secara bertahap (KAU, 2008).

Campur tangan Bank Dunia tersebut semakin tampak dari pernyataan Joachim von Amsberg, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia pada dua hari setelah kenaikan harga BBM. Menurut dia, kenaikan harga BBM sebesar 28,7% cukup kompatibel dengan anggaran pemerintah.

Perparah kemiskinan

Padahal upaya penyesuaian harga BBM dengan harga pasar dunia dipastikan semakin memukul kehidupan rakyat. Betapa tidak? Pada saat pendapatan sebagian masyarakat kita masih tergolong rendah tetapi harus dipaksa membeli harga BBM sesuai dengan harga pasar. Untuk mengikuti kemauan Bank Dunia itulah, selama berkuasa pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla sudah tiga kali menaikkan harga BBM.

Akibatnya, angka kemiskinan di negeri ini pun bertambah. Sebuah penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) secara jelas menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin pada 2008 ini akan bertambah 4,5 juta orang akibat kenaikan harga BBM. Total orang miskin diperkirakan akan mencapai 41,7 juta jiwa atau 21,92% dari total penduduk, jauh lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah sebesar 14,8%-15%.

Hal itu diperkuat dengan kenyataan empiris di lapangan, tidak lama berselang setelah kenaikan BBM harga sayuran di pasar-pasar tradisional di Jakarta pun mulai naik. Tomat, yang sebelumnya dijual Rp4.000 per kilogram menjadi Rp5.000 per kilogram, sedangkan cabai merah yang semula Rp15.000 per kilogram menjadi Rp18.000 per kilogram mulai merangkak naik.

Bukan hanya di Jakarta, melainkan juga di Semarang sebagian nelayan Kampung Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, mulai berhenti mencari ikan sejak beberapa hari lalu setelah pemerintah menaikkan harga BBM. Mereka tidak mampu menutup biaya operasional melaut yang naik hingga 50%.�

Untuk meredam keresahan masyarakat akibat semakin lemahnya daya beli mereka terhadap kebutuhan sehari-hari tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp100.000 per bulannya. Uang sebesar itu pun dipastikan tidak akan memadai di tengah naiknya kebutuhan harga barang-barang akibat kenaikan harga BBM.

Terlepas dari mencukupi atau tidaknya BLT yang disalurkan pemerintah, jika dicermati secara lebih jauh program BLT sejatinya juga mengadopsi paradigma sistem ekonomi-politik neoliberal yang gencar dipromosikan oleh Bank Dunia, ADB, dan IMF di negeri ini.
Para penganjur sistem neoliberal sadar bahwa penerapan sistem ini akan memukul kelompok miskin. Namun, mereka yakin bahwa dampak buruk penerapan sistem ini akan bersifat sementara. Lama kelamaan masyarakat miskin akan mampu beradaptasi dengan sistem ini. Untuk mengatasai dampak buruk yang menurut mereka bersifat sementara itu, negara harus memberikan bantuan bagi kelompok miskin agar dalam waktu singkat dapat beradaptasi dengan sistem neoliberal tersebut (Reclaiming Development: An Alternative Economic Policy Manual, 2004).

Sistem neoliberal sendiri diciptakan untuk melucuti peran negara dalam mengatur ekonomi. Menurut sistem ini, pengaturan ekonomi seharusnya diserahkan kepada korporasi melalui mekanisme pasar. Sektor energi adalah salah satu pintu masuk bagi upaya meliberalkan sistem ekonomi dan politik di Tanah Air.

Jika sektor ini sudah diserahkan secara bulat-bulat kepada mekanisme pasar maka sektor lainnya, seperti pangan dan pendidikan akan lebih mudah untuk diserahkan pada mekanisme serupa.

Untuk itulah, pemerintah harus lebih berhati-hati terhadap usulan Bank Dunia melalui Bappenas yang menginginkan harga energi disesuaikan dengan harga pasar. Dampak sosial di masyarakat harus diperhitungkan oleh pemerintah sebelum menerima secara bulat-bulat usulan tersebut.

Memang tidak dapat dipungkiri pula bahwa konsumsi BBM di negeri ini sangat tinggi sehingga mengharuskan pemerintah untuk merogoh koceknya guna membiayai impor BBM. Namun, kondisi itu tidak bisa membenarkan munculnya kebijakan menaikkan harga BBM hingga sesuai dengan harga pasar.

Pemerintah masih mampu mengupayakan kebijakan untuk mengerem laju konsumsi BBM di dalam negeri, misalnya pembatasan penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang diimbangi dengan pembangunan infrastruktur transportasi publik.

Namun, tampaknya kebijakan seperti itu justru tidak pernah muncul, pemerintah lebih suka menuruti keinginan Bank Dunia seperti yang telah disampaikan oleh Bappenas. Rupanya pujian dari Bank Dunia lebih memikat hati para pengambil kebijakan di negeri ini dibandingkan dengan melihat rakyatnya bersuka ria karena terlepas dari belenggu pemiskinan.

Oleh Firdaus Cahyadi
Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id63886.html


Yuyun Harmono
Koalisi Anti Utang (KAU)/Anti Debt Coalition Indonesia
Jl. Tegal Parang Utara No.14 Jakarta Selatan 12790 Indonesia
Telp. 021-79193363,Fax. 021-7941673,
Hp. 081807867506
website : www.kau.or.id
blog : antiutang.wordpress.com

Usulan Penyelamatan Joko Suprapto, Penemu Blue Energy

May 26, 2008 – 3:36 pm

Ada berita tentang terganggunya keselamatan jiwa Joko Suprapto warga Ngadiboyo, Rejoso, Nganjuk, Jatim, Pemilik Radio Jodhipati FM. berikut petikan beritanya :

——

26/05/2008 12:30 WIB
Misteri Blue Energy
Komnas HAM: Ada Orang Penting di Pemerintahan Ancam Jiwa Joko
Indra Subagja - detikcom

Jakarta - Misteri blue energy temuan Joko Suprapto ‘menyeret’ Komnas HAM. Komnas HAM turun tangan untuk melindungi Joko Suprapto.

“Ada orang penting di lingkungan pemerintahan yang juga bermain, mengancam keselamatan jiwanya,” kata Komisioner Komnas HAM Yoseph Adi Prasetyo saat berbincang dengan detikcom lewat telepon, Senin (26/5/2008).

Pria yang akrab disapa Stanley ini mengaku bahwa jiwa Joko terancam karena ada intimidasi dari pihak tertentu. “Komnas akan menurunkan tim untuk pemantauan,” tambahnya.

Tim dari Komnas ini sudah berhubungan dengan RI-1 alias Presiden SBY. “Orang ini (Joko) sudah mendapat perlindungan, karena seharusnya memang negara melindungi beliau,” imbuhnya.

Selain itu Komnas akan melakukan langkah-langkah taktis supaya tidak ada hak asasi Joko Suprapto yang dilanggar. “Temuannya bisa mengancam dunia usaha internasional, keselamatan jiwanya bisa terancam. Dan kita akan segera publikasi sesegera mungkin,” tandas Stanley yang mengaku dihubungi kerabat Joko sejak 3 minggu lalu untuk minta perlindungan ini.

Joko Suprapto adalah warga Ngadiboyo, Rejoso, Nganjuk, Jatim. Pemilik Radio Jodhipati FM ini dikenal sebagai pecinta wayang yang sering nanggap wayang di rumahnya. Joko selama ini diberitakan sebagai sarjana teknik elektro UGM. ( ndr / nrl )

Sumber : Detik

————-

Ide saya, untuk menyelamatkan jiwa si Joko ini adalah, membuka kode rahasia pembuatan Blue Energy - nya, ke publik atau khalayak umum. Memang kehilangan duit besar, namun aman karena nyawanya selamat. Caranya adalah dengan menyebarkan ke milis-milis dan Blog-blog secara luas, sehingga tiap orangpun mampu membuatnya. Memang hal ini akan membuat banyak sekali pihak kalang kabut, terutama penjual Energi a.k.a Spekulan Ekonomi. Dengan hal ini maka Joko, sekaligus rakyat akan bisa diselamatkan dari keterpurukan akibat minimnya Energi.

Apakah ini hanya harapan atau mimpi di siang bolong?

Republik Mimpi saja sekarang hilang entah kemana.

Hasil Tim Robot Polines dalam KRI-KRCI Regional III di Yogyakarta

May 20, 2008 – 10:48 am

Meski telah mengerahkan daya-upaya dan usaha secara maksimal, Tim Robot KRI dan KRI Polines membawa pulang hasil yang kurang menggembirakan, meski juga masih ada harapan.

TIM KRI :

14 peserta dibagi dalam 4 group. Dalam satu group dengan sistem 1/2 kompetisi diambil 2 terbaik untuk lolos ke 8-besar. Polines tergabung dalam B bersama STTNas dan Atmajaya Jogja.

- Putaran pertama bertemu STTNAS. Robot Otomatis Polines berhasil mengangkat 1 butter (1 x 6 poin) dan robot manual berhasil memasukkan pot+cheese 2 (2 x 3 poin). Manual melakukan kesalahan sekali (1 x (-3) poin). Robot otomatis lawan tidak bekerja sama sekali, namun robot manual bekerja sangat bagus sehingga mampu memasukkan 5 buah pot+cheese (5 x 3 poin) dan 1 pot (1 x 1 poin). Hasil akhir polines 9 - STTNAS 16.

- Putaran kedua vs ATMAJAYA. Secara poin, Hasil di pertandingan ini lebih buruk dari yang pertama. Robot manual berhasil memasukkan 2 pot+cheese (2 x 3 poin), sedang otomatis gagal karena kunci penjepit terlanjur lepas sebelum sampai tujuan. Tim juga 1 kali kena penalti (1 x (-3) poin). Sehingga poin akhir hanya 3. Namun beruntung semua robot lawan ngadat, sehingga Polines menang 3-0.

Dengan hasil ini maka Polines lolos 8 besar sebagai runner-up group bertemu tim UGM. Tim UGM adalah tim terbaik selama babak peyisihan dengan rata-rata poin diatas 30.

Menghadapi kondisi ini, Tim Polines tidak lantas menyerah. Waktu yang ada (satu malam setengah hari) dimanfaatkan untuk mengatur strategi dan memaksimalkan performance robot.

Untuk hal ini saya salut dengan Tim KRI Polines dengan tim inti: Dimas Herjuno dan Akhmad Rizki dari Jur. elekttro dan Vick Aron. dari Tek. Mesin plus 10 kru gabungan elektro dan mesin yang dengan semangat terus berusaha tanpa kenal waktu meski akan melawan tim besar. Strategi yang disiapkan adalah memastikan robot otomatis sukses mengangkat satu butter  dan menyiapkan satu robot otomatis lain untuk mem-blok manual lawan, sambil berdoa robot otomatis lawan gagal (meski dari 3 penampilan sebelumnya, robot otomatis UGM selalu sukses meraup poin maksimal).

Saat lomba, skenario yang diharapkan hampir seluruhnya terjadi: otomatis mampu mengambil 1 butter dan sukses mem-blok satu kotak pot lawan. Manual juga perform seperti sebelumnya mampu meraup 6 poin. sayang kita kena satu penalti (-3 poin). Di lain pihak, harapan agar robot otomatis lawan gagal juga terjadi. Akhirnya Lawan hanya bertumpu pada robot manual. Namun performance manual lawan memang luar biasa. Meski satu kotak sudah mampu diblok, mereka masih mampu menempatkan 5 pot ke kotak yang satunya. Sehingga skor akhir 6 - 15 untuk UGM. (ini adalah poin terendah yang didapat UGM selama lomba). Polines gagal masuk 4 besar, UGM melaju hingga akhirnya juara.

Namun begitu kita masih punya harapan untuk tetap lolos ke Putaran Final tingkat nasional, ada 24 tim yang akan diundang berpartisipasi. 12 tim diambil dari juara 1,2, dan 3 masing-masing regional (I-IV). Sedang 12 sisanya diambil tim yang menunjukkan performance baik meski gagal masuk 3 besar. Melihat performance Tim Polines, yang hampir selalu sukses menjalankan robot otomatis (dibanding tim lain yang hanya mengandalkan manual), kita boleh agak optimis. Didukung juga fakta bahwa dari 4 tim yang tersingkir di 8 besar, Polines memiliki poin tertinggi. keputusan akhir lolos tidaknya Polines ke Jakarta, menunggu hasil rapat tim Juri nasional pada 27 Mei 2008.

Untuk tim KRCI, kita belum bisa berprestasi lebih jauh, karena kayaknya perlu jam terbang yang lebih tinggi, utamanya kemampuan dalam menghasilkan robot yang reliable (tahun perubahan lingkungan). Ketika trial di lapangan buatan sendiri, yang sudah didesain semirip mungkin dg aslinya, Robot Polines mampu bekerja sesuai harapan. Namun ketika dijalankan dilapangan aslinya (dimana disana banyak lighting dan suara yang bising), robot KCI Polines tidak bekerja sbagaimana mestinya.

Demikian informasi kami, atas nama tim, saya menyampaikan permohonan maaf bila tidak memenuhi harapan keluarga besar polines, dan saya selaku pembimbing bertanggung jawab atas semua itu.

Sekali lagi, penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan kepada para mahasiswa anggota tim robot Polines, atas kerja kerasnya selama berminggu-minggu disela padatnya tugas perkuliahan yang mereka jalani.

Terimakasih,

Salam

Amin Suharjono

Salah satu Pembimbing

Tim Robot Polines

Menerima Jelantah Untuk Diolah Jadi Biodiesel

May 14, 2008 – 2:20 pm

 

 

 

 

 

Ternyata limbah jelantah bisa diolah jadi biodiesel, nah ini merupakan ide yang bagus. Daripada dijual ke masyarakat sehingga membahayakan kesehatan, lebih baik dilah menjadi biodiesel. Berikut ini merupakan pengepul Biodiesel :

————

Dear Netters,

Sebentar lagi harga BBM akan naik dan terus akan naik sejalan dengan semakin sulitnya mendapatkan minyak bumi. BBM juga akan semakin sulit didapat seperti terlihat pada antrian-antrian kendaraan di seluruh Indonesia. Salah satu alternatif terbaik untuk mendapatkan BBM diesel agar industri tetap jalan adalah menggunakan biodiesel dari jelantah.

Jelantah adalah minyak goreng yang sudah 2 x digunakan untuk menggoreng dan sudah dikatagorikan sebagai limbah. Limbah jelantah ini dapat menyebabkan kangker apabila digunakan kembali untuk menggoreng walaupun telah disaring dan dijernihkan kembali. Jelantah akan mengotori selokan apabila dibuang di parit-parit perumahan.

Biodiesel adalah bahan bakar yang terbarukan dan ramah lingkungan serta menghasilkan aroma harum dari asap kendaraan yang menggunakannya. Bagi teman-teman industri yang membutuhkan biodiesel dapat menghubungi Pak Hasim Hanafie di +62 816112 6264. Beliau memiliki mesin pembuat Biodiesel dari Jelantah yang membeli Jelantah dan menjual Biodieselnya untuk Industri. Biodiesel yang dihasilkan telah digunakan untuk kendaraan bus Transpakuan Pemkot Bogor.

Beliau juga bersedia membeli jelantah (minyak goreng bekas) dalam jumlah tidak terbatas untuk dikonversikan menjadi Biodiesel. Bagi Hotel dan Restaurant yang bersedia menjual jelantahnya sambil ikut berpartisipasi menyelamatkan planet bumi, silahkan menguhubungi Pak Hasim Hanafie di +62 8161126264

Ini ada artikel dari Pikiran Rakyat yang mungkin bermanfaat untuk sekedar bacaan

========================================

Berita dari Koran : Pikiran Rakyat

Jelantah, Bahan Bakar Transpakuan

BOGOR - Terobosan terbaru dilakukan Pemkot Bogor yaitu dengan memanfaatkan minyak goreng bekas atau sering disebut minyak jelantah, untuk dijadikan bahan bakar alternatif bus Transpakuan. Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Bogor menunjuk dua pengelola koperasi pasar di Pasar Sukasari dan Pasar Padasuka untuk mengumpulkan minyak jelantah dari 120 pemilik restoran dan pedagang makanan di Kota Bogor. Asda Bidang Sosial Ekonomi Pemkot Bogor, Indra M. Rusli mengatakan, minyak jelantah adalah limbah yang membahayakan karena mengandung zat karsinogenik yang bisa menyebabkan penyakit jantung. “Pemakaian minyak goreng paling banyak untuk tiga kali menggoreng, setelah itu tidak sehat lagi. Karena, sudah mengandung zat karsinogeik. Namun, ternyata hasil penelitian zat karsinogenik ini bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan,” kata Indra. Dengan pertimbangan seperti itu, Pemkot Bogor melihat minyak jelantah ini bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif bus Transpakuan yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Jasa Transportasi. Minyak jelantah tersebut akan diolah menggunakan mesin, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Pemkot Bogor tertarik ingin memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif setelah melihat pemanfaatannya di Kota Kyoto, Jepang. “Saat ini ada sekitar 120 bus bermesin diesel di Kyoto yang bahan bakarnya 20 persen menggunakan minyak jelantah dan 80 persen menggunakan solar,” kata Indra. Kepala Koperasi Pasar Bogor, Rizal Utami, yang mengelola kebersihan di tiga pasar tersebut mengatakan, jelantah yang sudah tidak terpakai oleh restoran dan pedagang makanan dikumpulkan menggunakan jerigen yang disediakan Pemkot Bogor. “Jerigen-jerigen itu dititipkan di restoran dan pedagang makanan oleh petugas dari Koppas. Setiap tiga hari, jerigen itu akan diambil dan diberikan jerigen baru,” kata Rizal Utami. (A-104)***