PARA PEMASOK UNILEVER MEMBAKARKALIMANTAN DEMI MINYAK KELAPA SAWIT; GREENPEACE MENUNTUT MORATORIUM KONVERSIHUTAN
April 24, 2008 – 10:17 amJakarta/Singapore, 21 April 2008 – Unilever, nama dibalik berbagai merek besar dunia,termasuk sabun Dove, menyumbang perusakan hutan serta lahan gambut Indonesia,ekosistem terakhir di muka bumi yang merupakan cadangan karbon yang besar sertamerupakan habitat orangutan serta satwa langka lainnya, menurut organisasilingkungan hidup Greenpeace.
Dalam laporan yang bernada keras, bertajuk “MembakarKalimantan”, Greenpeace membeberkan laporan baru yang menunjukkan titik-titikdimana para pemasok Unilever menghancurkan hutan gambut dan habitat orangutandemi menanam kelapa sawit, salah satu bahan penting dalam pembuatan merek sabunterkenal Unilever.
“Sungguhketerlaluan apabila hutan hujan kita terus dirusak demi produksi minyak kelapasawit.
Kamitelah berkali-kali menyerukan pemerintah Indonesia untuk menyatakan moratoriumguna menyelamatkan hutan dan lahan gambut tersisa dari penghancuran hanya demisabun dan shampo,” kata Hapsoro, juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara,“Kini Greenpeace menyerukan para industri pengguna utama minyak kelapa sawitberhenti membeli dari perusahaan-perusahaan yang merusak hutan dan lahangambut,” ujar Hapsoro.
Kerusakan hutan Indonesia terjadi lebih pesatdibandingkan negara pemilik hutan lainnya di dunia. Hal ini menjadikanIndonesia penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di muka bumi (1).
Lahan gambut yang dalam di kawasan ini ketika dikeringkandan kemudian dibakar dalam proses mempersiapkan lahan baru untuk perkebunankelapa sawit menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah yang besar. Kawasanlahan gambut ini bertanggung jawab atas 4% dari jumlah emisi gas rumah kacadunia (2).
Laporan ini juga menjelaskan bagaimana pertumbuhansektor kelapa sawit memberikan dampak buruk terhadap keanekaragaman hayati.Jumlah populasi orangutan merosot drastis dan terancam kepunahan(3). Denganmemetakan kawasan yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan kunci yangmenjadi pemasok perusahaan Unilever, laporan ini menjelaskan bagaimanaperusahaan dengan hubungan langsung dengan Unilever saat ini membabat habitatorangutan yang tersisa. Laporan ini juga mencakup riset lapangan yang dilakukanoleh Greenpeace di bulan-bulan awal tahun 2008.
“Kami tercengang saat mengetahui bagaimana Unilever,yang merupakan salah satu pengguna minyak kelapa sawit terbesar di dunia danmerupakan pemrakarsa utama Roundtable of
Sustainable Palm Oil (RSPO), suatu organisasi industri yang dibentuk untukmemastikan produksi minyak kelapa sawit yang ramah lingkungan, ternyata tidakmelakukan apapun untuk mengehentikan para pemasok merusak hutan serta lahangambut,” ujar Sue Connor dari Greenpeace Internasional di Jakarta, “Kecuali Unilevermembersihkan segenap operasinya orangutan akan punah lebih cepat, kitakehilangan kesempatan bertindak mencegah bencana iklim.”
- Greenpeace menyerukan Unilever agar secara terbukamendeklarasikan penghentikan perluasan lahan kelapa sawit pada kawasan hutandan lahan gambut serta berhenti berbisnis dengan pemasok yang terus merusakhutan hujan.
- Greenpeace menyerukan pemerintah Indonesia untuksegera mendeklarasikan moratorium konversi lahan gambut dan hutan dengankriteria minimum sebagai berikut:
1. Tidak ada perkebunan baru dalam kawasan hutan yangsudah dipetakan
2. Tidak ada perkebunan baru yang dibuka dengan caramerusak lahan gambut
3. Tidak ada perkebunan atau perluasan arealperkebunan pasca-November 2005 yang dihasilkan dari deforestasi atau merusakkawasan dengan nilai konservasi tinggi (High Conservation Value Forest, HCVF).
4. Tidak ada perkebunan atau perluasan arealperkebunan pada kawasan masyarakat adat atau kelompok masyarakat yangmenggantungkan hidup mereka pada hutan tanpa persetujuan mereka yang diambiltanpa tekanan (free prior informed consent, FPIC).
5. Menginformasikan secara terbuka rantai lacakpasokan serta sistem segregasi yang dapat menandai dan mengecualikan minyakkelapa sawit dari kelompok yang gagal memenuhi kriteria di atas.
Greenpeace adalah organisasi kampanye yang independen,yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkapmasalah lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depanyang hijau dan damai.
Foto danVideo :
1. Tersedia foto dan video kerusakan hutan sertaorangutan di lahan perkebunan kelapa sawit.
2. tersedia video orangutan yang terluka di perkebunankelapa sawit.
Catatan bagipara editor:
Menurut Pusat Perlindungan Orang-Utan (Centre forOrangutan Protection), setidaknya 1.500 orangutan mati di tahun 2006 akibatserangan yang disengaja oleh pekerja perkebunan. (4)
Sejak tahun 1900, jumlah orangutan Sumateradiperkirakan turun 91%, dengan angka terbesar di akhir abad ke-20.
Sejak tahun 1990, 28 juta hektar hutan Indonesia –dengan ukuran sama dengan Ekuador – telah dihancurkan, sebagian besar akibatpembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Permintaan akan minyak kelapa sawitdiperkirakan akan meningkat berlipat ganda; dua kali lipat pada tahun 2030 dantiga kali pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2000.
Hapsoro, Juru Kampe Hutan Greenpeace Asia Tenggara,+62 813 7848 9700
Sue
Connor, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Internasional +62 813 1594 3404 / +64 21
2299 594
Adhityani Arga, Juru Kampanye Media Greenpeace AsiaTenggara +62 813 980 999 77
Tim Birch, Juru Kampanye Hutan GreenpeaceInternasional, + 00 44 7801 212 960
Vicky Wyatt, pusat informasi pers GreenpeaceInternasional, +00 44 7801 212 970
John Novis, desk foto Greenpeace Internasional, + 0044 7865 8230
Michael Nagasaki, desk video Greenpeace Internasional,+ 00 31 646 162 015
CATATAN KAKI
(1) WetlandsInternational, Peatland degradation fuels climate change, November 2006
(2)Cooking the Climate, Greenpeace Report , November2007
(3)The Last Stand of the Orangutan; State ofEmergency: Illegal Logging, Fire and Palm Oil in Indonesia’s National Parks,UNEP, Feb 2007
(4) AFP (2007) ‘Activists: Palm oil workers killingendangered Orang-Utans.
Arie Rostika Utami
Assistant Media Campaigner
Greenpeace Southeast Asia